NO GOD BUT ALLAH . . .

اللهُ لآَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ...

Jumat, 13 Agustus 2010

Seorang Bunuh Diri Dengan Kepala di Cat Merah

Seorang Bunuh Diri Dengan Kepala di Cat Merah


“Semua orang pasti akan mati, pasti. Dan, itu tidak usah lagi kau pertanyakan. Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana kita menginginkan mati kita itu?” ujar seorang tua itu.
Aku tertegun, termenung, terdiam sejenak mencoba memahami kalimat terakhir yang diucapkan oleh seorang tua itu.
“saya juga tahu, Pak, kalau setiap orang pasti akan mati. Cuma, aku masih belum mengerti maksud kalimat terakhir Bapak itu?”
“kau pernah mendengar semboyan nenek moyang kita yang hidup di zaman penjajahan belanda dulu? Semboyan itu kurang lebih berbunyi begini ‘Lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup di jajah’.”
“ya, saya pernah mendengarnya.”
“kau tahu apa arti dibalik semboyan itu?”
“menurut saya semboyan tersebut sebagai pelecut semangat perjuangan nenek moyang kita zaman dulu untuk mengusir para penjajah.”
“kau betul, karena memang konteksnya dulu ya seperti itu. Nenek moyang kita butuh lebih dari sekedar kata-kata pelecut semangat biasa-biasa saja untuk berjuang melawan para penjajah. Namun, kau tampaknya melewatkan makna terdalam dan makna luas daripada semboyan itu.”
Aku kembali tertegun, termenung, terdiam sejenak mencoba memahami kalimat terakhir yang diucapkan oleh seorang tua itu.
“makna terdalam dan makna luas? Maksudnya apa, Pak.”
“semboyan itu memanglah diucapkan pada zaman perjuangan nenek moyang melawan para penjajah dulu. Akan tetapi, semboyan itu juga bisa diterapkan dalam konteks kehidupan masyarakat saat ini. Yang namanya penjajahan itu ‘kan identik dengan sesuatu yang menjerat, sesuatu yang tidak adil, sesuatu yang menyengsarakan pihak terjajah. Kalau kita mencoba menyesuaikan dengan konteks kehidupan masyarakat sekarang, sebenarnya berbagai bentuk penjajahan itu masih ada. Kita tahu banyak sekali kasus korupsi miliyaran rupiah yang belum terselesaikan, kasus ganti rugi lumpur lapindo yang masih belum tuntas-tuntas juga, kasus buruh TKW yang dianiaya dan ada juga yang terbunuh, kasus peningkatan kesejahteraan buruh, dan masih banyak kasus-kasus yang lain dalam bidang pendidikan dan ekonomi yang terjadi ketimpangan yang sangat kentara sekali antara mereka yang kaya dan mereka yang miskin.”
Aku manggut-manggut mencoba mencerna dan memahami penjelasan dari seorang tua itu.
“jadi, itu makna luasnya ya, Pak?”
“iya.”
“kalau begitu, makna terdalamnya apa, Pak?”
“semboyan itu mengandung sebuah filosofi.”
“filosofi? Filsosofi apa, Pak?”
“filosofi tentang kematian dan kehidupan, filosofi tentang bagaimana seharusnya kita mati dan juga bagaimana kita seharusnya kita hidup.”
“maksud Bapak?”
“hidup kita itu harus bermakna. Hiduplah sebagai seorang yang pemberani, jangan sebagai seorang yang pengecut. Dan bahwa semua orang akan mati adalah kepastian bukan pilihan. Pilihan kita sekarang adalah bagaimana cara kita memilih mati? Apakah kita memilih untuk mati sebagai seorang yang pengecut? Ataukah mati sebagai seorang yang pemberani? Nenek moyang kita telah menunjukkan kepada dunia bahwa mereka memilih mati sebagai orang-orang yang pemberani. Karena itulah warna bendera kita adalah merah putih, bukan putih merah. Karena merah adalah lambang keberanian.”
Aku manggut-manggut mendengar penjelasan darinya.
“lalu, mati sebagai seorang yang pengecut itu yang seperti apa, Pak?”
Seorang tua itu tampak termenung sejenak, seolah sedang memikirkan kata-kata yang tepat untuk mengutarakan jawabannya. Sesaat kemudian dia melirik jarum jam di pergelangan tangan kirinya. Lalu dia berujar.
“maaf, Mas. Sudah malam. Saya sudah ngantuk, pengen tidur istirahat. Seharian kerja membuat badan saya pegel-pegel semua. Ngobrolnya kita sambung lagi lain kali saja ya, Mas.”
Aku mengiyakannya saja. Dari raut wajahnya yang sudah mulai termakan usia itu, aku bisa merasakan kalau seorang tua itu benar-benar capek dan lelah, capek dan lelah karena seharian kerja sebagai kuli bangunan, demi menghidupi dirinya sendiri dan ……., ah, soal keluarganya aku kurang banyak tahu. Semenjak aku tinggal satu kos dengan seorang tua itu, aku memang satu-satunya penghuni kos-kosan yang sering terlihat terlibat obrolan dengan dirinya. Entah kenapa seorang tua itu jarang terlihat ngobrol dengan penghuni kos-kosan yang lain selain diriku. Mungkin saja dia merasa kurang cocok dengan mereka atau barangkali saja dia juga merasa kurang suka dengan penghuni kos-kosan yang lain seperti halnya yang aku rasakan. Ya, aku merasa penghuni kos-kosan ini, selain seorang tua itu, terlalu banyak ingin tahu pribadi orang lain. Aku pikir budaya Kota Jakarta itu ‘loe-loe gue-gue’. Maka dari itu aku nekat lari dan mencari kerja ke Ibu Kota demi menghidupi diriku sendiri. Karena aku ingin menghapus dan membuang jauh-jauh masa laluku yang kelam. Aku sama sekali tidak ingin mengungkit-ungkit lagi masa laluku itu, sama sekali tidak ingin. Tapi? Ah, penghuni-penghuni kos-kosan ini, selain seorang tua itu, terlalu banyak tanya tentang masa lalu orang lain menurutku. Sebenarnya aku sama sekali tidak keberatan jika mereka sekedar basa-basi kepadaku sebagai sesama penghuni kos-kosan bertanya semacam ‘namanya siapa, Mas?’, ‘kerja dimana, Mas? Di bagian apa?’, ‘sudah berapa lama, Mas, hidup di Jakarta?’. Sudah begitu saja, jangan tanya-tanya yang lain yang ada kata-kata ‘dulu’nya seperti ‘sebelum ini, dulunya dimana, Mas?’ ‘dulu kerja apa, Mas?’ apalagi sampai bertanya lebih jauh seperti ‘Mas ini ‘kan bukan dari luar jawa, tapi sepertinya kok gak pernah pulang ke rumah? Apa gak kangen sama keluarganya Mas?’ ah, itu apalagi, sampai bertanya soal keluargaku segala. Ah, muak aku mendengarnya. Ingin sekali aku menjawab kalau aku ini tidak punya keluarga, tidak punya siapa-siapa. Aku terlahir begitu saja ke dunia. Tapi aku tidak melakukannya. Aku lebih memilih diam saja ketika mereka bertanya kepadaku seperti itu. Tapi? Ah, dasar mereka terlau banyak ingin tahu pribadi orang lain! Setiap kali aku diam, mereka justru melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang bernada sok peduli.
“Mas kok diam saja setiap kali ditanya soal keluarganya Mas. Apa Mas ini dulunya ada masalah dengan keluarganya Mas. Santai saja, Mas. Ceritakan saja kepada saya, siapa tahu saya bisa membantu, siapa tahu saya bisa memberi masukan atau solusi.”
Ah, semakin muak saja aku jika mendengar mereka sok peduli seperti itu. Semakin muak aku, semakin diam saja aku. Tapi? Ah, semakin aku diam, semakin mereka menaruh kecurigaan kepadaku. Curiga kalau-kalau aku ini berasal dari ‘broken family’, curiga kalau-kalau aku ini lahir tanpa ayah dan ibu atau lebih tepatnya aku ini anak buangan dan curiga-curiga yang lain. Membuatku semakin muak saja dengan mereka, tapi tidak dengan seorang tua itu. Ya, aku merasa nyaman ngobrol dengan seorang tua itu. Aku merasa dia tidak suka banyak tanya tentang kehidupan pribadi lawan bicaranya selain ‘nama’ ‘kerja dimana’ ‘di bagian apa’ ‘sudah berapa lama hidup di Jakarta’, sudah begitu saja, lalu dilanjutkan dengan obrolan lain tentang apa saja, asal bukan tentang kehidupan pribadi kami masing-masing.
Suatu hari aku pernah keceplosan bertanya tentang keluarga kepada seorang tua itu. Sungguh aku sama sekali tidak bermaksud bertanya seperti itu kepadanya, karena aku sendiri juga tidak ingin jika seorang tua itu juga balik menanyakan hal yang sama kepadaku. Tapi? Ah, aku benar-benar keceplosan waktu itu. Dan, seorang tua itu hanya diam saja waktu itu, diam saja tak menjawab apa-apa seperti halnya aku diam saja ketika penghuni kos-kosan ini menanyakan hal yang sama kepadaku. Tapi aku langsung tahu diri waktu itu. Aku tahu seorang tua itu mungkin sama halnya dengan diriku yang memiliki masa lalu yang kelam tentang keluarganya yang ingin dihapus dan dibuangnya jauh-jauh. Karena itu aku langsung mengalihkan ke topik pembicaraan yang lain waktu itu. Mungkin itu pulalah yang membuatnya kurang suka ngobrol dengan penghuni lain di kos-kosan ini, seperti halnya diriku. Mungkin juga karena alasan itu pulalah seorang tua itu lebih suka ngobrol denganku. Dan, karena alasan itu jugalah mungkin penghuni lain di kos-kosan ini seperti mengucilkan kami berdua. Ah, biarkan saja mereka. Bukankah kehidupan Jakarta memang identik dengan ‘loe-loe gua-gua’?
Ku lirik jarum jam di pergelangan tangan kiriku. Sudah larut malam, suasana kos-kosan sudah sepi. Tampaknya penghuni kos-kosan ini sudah pada lelap tidur semua kecuali aku. Tapi tak apalah, besok ‘kan hari libur, sedikit tidur larut malam tak apalah sesekali.
Sendirian aku di teras depan kos-kosan, termenung. Suasana larut malam yang begitu sunyi memang mudah sekali membawa pikiran kita melayang-layang ke masa lalu. Ah, sebenarnya aku sama sekali tidak ingin mengingat-ingat lagi masa laluku yang kelam itu. Tapi, dalam kesunyian dan keheningan malam, bayang-bayang kelam itu seperti tiba-tiba menggelayut begitu saja di pikiranku.
Ah, masa lalu yang kelam itu. Masih ingat aku, aku terlahir ke dunia ini tanpa ayah, dan semua teman-temanku memanggilku ‘anak haram’, ‘anak lonte’. Aku menolak dipanggil seperti itu. Aku bilang kepada mereka bahwa aku bukan anak haram, aku adalah anak ibuku yang sah. Aku bilang kepada mereka bahwa aku bukan anak lonte, aku anak Ningsih – Ningsih adalah nama ibuku – tapi mereka semua justru menertawakanku. Aku pulang dengan tangis tersedu-sedu mengadukan semuanya kepada ibuku. Aku tanyakan kepada ibuku apakah aku tidak punya ayah, apakah aku terlahir tanpa ayah. Ibuku menjawab tidak, ibu bilang ayah sudah lama meninggal sejak aku masih berupa janin dalam kandungannya. Aku percaya saja dengan ucapan ibu – meskipun sekarang aku tahu yang sebenarnya bahwa aku memang terlahir tanpa ayah, ah, bukan tanpa ayah, melainkan lebih tepatnya aku terlahir dengan ayah banyak hingga ibu tidak tahu ayahku itu yang mana. Hingga akhirnya ibu menikah dengan seorang germo yang sama sekali tidak punya rasa kasih sayang dan belas kasihan sedikitpun kepadaku sebagai anak tirinya, hingga akhirnya aku dijualnya kepada seorang mafia perdagangan anak dibawah umur, namun aku berhasil melarikan diri, lalu menggelandangkan diri tanpa arah dan tujuan dari satu kota ke kota yang lain berbaur dengan anak-anak jalanan yang lainnya menjadi pengamen jalanan dari bus ke bus, dari terminal ke terminal. Suka duka pernah aku alami selama menjadi anak jalanan. Pernah aku disodomi oleh preman terminal yang sedang teler, pernah aku dipukuli rame-rame sampai hampir mati oleh orang-orang terminal gara-gara dituduh mencopet padahal yang menuduhku seperti itulah sebenarnya dia yang mencopet. Hingga akhirnya aku ditolong oleh seorang yang baik hati yang kemudian memasukkanku ke Yayasan Panti Anak Jalanan. Namun, aku merasa tidak betah di yayasan itu, aku sudah terbiasa hidup keras, aku justru tidak kerasan jika harus hidup di sekitar lingkungan yang biasa-biasa saja. Aku melarikan diri dari yayasan itu. Aku kembali menjadi anak jalanan selama bertahun-tahun. Aku menghabiskan seluruh kehidupanku di jalanan. Aku tumbuh dewasa sebagai anak jalanan. Aku bekerja apa saja demi bertahan hidup. Hingga akhirnya aku sampai di Kota Jakarta ini, bekerja sebagai buruh kuli bangunan disini bersama seorang tua itu.
Hidupku memang keras sejak kecil, dan aku sudah terbiasa dan kuat menghadapinya. Namun, sebenarnya aku merasa rapuh, rapuh sekali di dalam. Kebencian, kesedihan dan kesepian serta kesendirian berbaur menjadi satu di dalam lubuk hatiku. Aku diliputi rasa kebencian kepada teman-teman masa kecilku yang selalu mengejekku, menghinaku dan menertawakanku. Aku merasa benci dengan ibuku sendiri yang telah membohongi diriku dan telah melahirkanku tanpa ayah. Aku benci dengan dia karena menikah dengan lelaki germo itu. Aku benci, sangat benci sekali dengan lelaki germo itu yang tega menjualku. Aku benci dengan masa laluku sendiri sebagai anak jalanan. Aku benci dengan kehidupan karena kehidupan membenciku, kalau kehidupan tidak membenciku, tidak mungkin kehidupan membiarkanku hidup diliputi rasa penuh kebencian seperti ini. Aku benci dengan mereka semuanya, karena mereka semuanya memandang sebelah mata kepadaku. Kebencian membawaku larut dalam kesedihan. Kesedihan menggiringku hanyut dalam kesepian dan kesendirian. Sepi, sepi dan sepi. Sendiri, sendiri dan terus saja sendiri. Aku kuat di luar, tapi aku rapuh, rapuh sekali di dalam. Ingin aku mati saja. Ingin aku bunuh diri saja, ingin sekali aku. Tapi, seorang tua itu tidaklah membenciku. Seorang tua itu tidaklah memandang sebelah mata kepadaku. Aku merasa kini tidaklah sendiri lagi. Aku kini merasa berdua. Ya, berdua dengan seorang tua itu. Dan, seorang tua itu telah mengajarkan kepadaku tentang filosofi hidup dan mati. Bahwa janganlah hidup sebagai seorang pengecut, dan bahwa jangan pula mati sebagai seorang pengecut. Ya, aku tidak ingin hidup sebagai seorang pengecut. Aku juga tidak ingin mati sebagai seorang pengecut pula. Benci, sedih, merasa sepi dan sendiri adalah sifat orang hidup yang pengecut. Bunuh diri adalah cara memilih mati sebagai seorang pengecut. Dan aku tidaklah menginginkan diriku seperti itu.
Aku hanyut dan larut terbawa ke alam bawah sadar pikiranku. Tak sadar aku akhirnya tertidur pulas di kursi teras depan kos-kosan ini. Lalu, aku seperti bermimpi, bermimpi melihat seorang tua itu keluar dari dalam kamarnya dan melangkah mendekat ke arahku. Seorang tua itu memasukkan sebuah surat ke dalam saku bajuku. Tapi? Ah, aku terkejut antara sadar dan tidak sadar, antara bermimpi dan terjaga. Aku terkejut dengan rupa seorang tua itu. Seorang tua itu mengecat merah kepalanya. Ingin sekali aku bertanya kenapa dia bertingkah aneh seperti itu. Tapi aku tidak bisa. Bibir dan lidahku terasa berat dan kelu untuk bertanya. Dengan wajah yang dicat merah, seorang tua itu tersenyum kepadaku, senyum tulus seperti senyum tulus seorang ayah yang hendak pergi merantau bekerja meninggalkan anaknya. Ah, apakah seorang tua itu hendak pergi meninggalkanku juga? Ah, jangan kau pergi, Pak Tua. Aku mohon jangan. Kau baru saja membuatku tersadar, Pak Tua, sadar akan apa arti hidup dan mati yang sebenarnya. Jika kau pergi, aku pun akan ikut pergi, ikut pergi bersamamu. Tapi, seorang tua itu diam saja, lalu kembali melangkah masuk ke kamarnya meninggalkanku sendirian yang tertidur pulas di teras depan kos-kosan ini.
Esok paginya aku terbangun. Ah, bukan, bukan terbangun, melainkan dibangunkan oleh kegegeran para penghuni kos-kosan ini di waktu sepagi ini. Aku mengucek-ucek mataku yang ku rasakan masih berat menahan rasa kantuk karena aku tidur terlalu larut semalam. Sembari menguap dan masih mengucek-ucek mata, aku bertanya ada apa gerangan kepada salah satu dari mereka.
“ada apa, Mas? Kok pagi-pagi gini sudah geger?”
“ada yang bunuh diri dengan gantung diri, Mas. Kepalanya dicat merah semuanya lagi. Hiii…serem, Mas, ngelihatnya.”
Pada itu, pada jawaban salah seorang dari mereka itu. Mataku langsung membelalak kaget.
“a…a…apa Mas bilang? Ada yang bunuh diri dengan kepala dicat merah?”
“iya, Mas. Mas lihat aja tuch sendiri.” Jawabnya sembari menuding ke arah salah satu kamar kos yang di depan pintu masuknya ku lihat penghuni kos-kosan yang lain sedang berkerumun disitu. Dan, ah, bukankah kamar itu… bukankah kamar itu kamar seorang tua itu? Ja…ja…jadi mimpi itu…..
Aku segera bergegas melangkah ke kamar seorang tua itu, menembus kerumunan di depan pintu kamar, memaksa masuk ke dalam, dan ……….
Betapa terkejutnya aku menyaksikan pemandangan di depan mata kepalaku ini. Saking terkejutnya aku, aku hampir tak percaya sama sekali dengan apa yang sedang aku saksikan ini. Saking tak percayanya aku, kedua kakiku terasa lemas dan berlutut begitu saja di atas lantai kamar itu. Ingin sekali aku bersimpuh di hadapan seorang tua yang memilih bunuh diri dengan gantung diri dan mengecat merah kepalanya itu. Namun, pada itu, selembar kertas jatuh dari saku bajuku. Ah, aku ingat sekarang. Kertas itu adalah kertas yang diberikan oleh seorang tua itu kepadaku. Dan, aku ingat sekarang. Mimpi yang aku alami semalam bukanlah mimpi, melainkan kenyataan. Aku ambil selembar kertas yang terjatuh dari dalam saku bajuku itu. Aku baca …
“kau pernah bertanya tentang keluargaku, bukan? Akan aku ceritakan semuanya kepadamu, hanya kepadamu. Karena aku tahu kau merasakan hal yang sama sepertiku. Dulu, dulu sekali aku hidup bahagia dengan seorang istri serta sepasang putra dan putri. Kami hidup bahagia dan berkecukupan sampai putra dan putriku itu beranjak dewasa. Sampai aku bisa menyekolahkan mereka berdua ke perguruan tinggi. Namun, semuanya berubah total pada suatu malam ketika sekawanan perampok menyatroni rumah kami. Di depan mata kepalaku sendiri, aku menyaksikan sekawanan perampok itu menguras habis seluruh isi rumahku. Di depan mata kepalaku sendiri, aku menyaksikan sekawanan perampok itu memperkosa putriku secara bergiliran. Di depan mata kepalaku sendiri, aku menyaksikan sekawanan perampok itu menghajar putraku habis-habisan sampai mati karena dia mencoba menyelamatkan adiknya. Putraku mati, putriku pun akhirnya mati. Mereka berdua mati di depan mata kepalaku sendiri. Dan aku, apa yang bisa aku lakukan saat itu? Aku hanya bisa berdiam diri menyaksikan kematian mereka berdua. Aku hanyalah seorang ayah pengecut yang tidak berguna yang tidak bisa berbuat apa-apa untuk menjaga dan menyelamatkan keluargaku. Setelah itu, aku merasakan beban psikologi yang berat. Aku menjadi seorang gila bertahun-tahun. Aku tidak lagi menjadi seorang suami yang normal yang bekerja demi menafkahi istrinya. Sungguh aku tidak kuat menerima kenyataan itu. Tapi, istriku kuat dan tabah menghadapi semuanya. Istriku kuat menerima kenyataan pahit itu. Istriku kuat mendapati suaminya yang berubah menjadi seorang gila. Aku masuk ke rumah sakit jiwa. Istriku nekat kerja sebagai TKW.. Istrikulah yang membiayai ongkos rehabilitasiku di rumah sakit jiwa itu. Bertahun-tahun aku tinggal di rumah sakit jiwa, sedikit demi sedikit aku kembali tersadar, sedikit demi sedikit pikiranku kembali normal. Namun, aku kembali harus menerima kenyataan pahit. Istriku dianiaya dan terbunuh sebagai TKW di tangan majikannya. Aku benar-benar merasa sebagai seorang ayah dan seorang suami yang pengecut, sangat pengecut sekali. Hingga akhirnya aku kabur ke Jakarta bekerja apa adanya, bekerja sebagai kuli bangunan demi menghidupi diriku sendiri. Aku ingin bertahan hidup dan mencoba menerima semua kenyataan pahit ini lalu menghapus dan membuangnya jauh-jauh. Aku tidak ingin menjadi pengecut lagi. Tapi, bayang-bayang masa lalu yang kelam itu selalu saja bergelayut di benakku. Bayang-bayang tentang aku yang terlahir dan hidup di dunia ini hanya untuk menjadi seorang pengecut. Haruskah aku bunuh diri untuk melepaskan diri dari semua ini? Tapi aku tidak ingin mati bunuh diri sebagai seorang pengecut. Dan aku juga tidak ingin hidup sebagai seorang pengecut. Kau masih ingat bukan? Ingat akan semboyan ‘lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup terjajah’. Aku lebih baik mati daripada harus hidup dijajah oleh perasaanku sendiri, perasaan pengecut. Kau masih ingat bukan? Akan perkataanku bahwa warna merah adalah lambang keberanian. Dan keberanian adalah lawan dari kepengecutan. Karena itulah, aku mengecat merah kepalaku. Karena aku telah hidup sebagai seorang pengecut, maka aku tidak ingin mati sebagai seorang pengecut. Aku bunuh diri bukan karena aku ini pengecut, tapi aku bunuh diri karena aku berani melawan rasa ketakutanku akan mati. Dan simbol dari keberanianku itu adalah dengan mengecat merah seluruh wajah dan bagian kepalaku.”
Aku tak percaya membaca isi selembar kertas dari seorang tua itu. Aku tak percaya seorang tua itu bunuh diri dengan cara seperti ini. Aku tak percaya! Sama sekali aku tak percaya! Ah, Pak Tua, kau baru saja menyadarkanku dengan filosofi hidup dan mati mu itu. Tapi? Ah, kenapa justru kau yang bunuh diri dengan cara yang aneh seperti ini? Ah, kau semakin membuatku bingung, Pak Tua! Dan kau, ah, kau telah pergi begitu saja meninggalkanku. Ah, kini aku sendirian lagi, Pak Tua, sendirian lagi. Haruskah aku menyusulmu, Pak Tua? Haruskah aku juga melakukan bunuh diri, Pak Tua? Ah, aku memang pernah berpikiran untuk bunuh diri, namun sama sekali tiada pernah terbersit di pikiranku untuk melakukan bunuh diri dengan cara aneh seperti ini.
Ku angkat wajahku, menatap wajah yang dicat merah dari seorang tua itu. Pada itu, aku roboh, aku pingsan tak sadarkan diri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar