Aku adalah puisi
biduk di langit masih kering tertawa
melihat aku yang tetap bercumbu dengan khayal
menari kata dalam balutan puisi
membingkaikan rasa dalam bait
puisi adalah aku
aku bercinta dengan kata
dan merangkai menjadi satu kenangan indah
dekapan kalimat panjang membuai mesra diriku
kutemukan ada detak lemah setia
Kesadaran adalah Matahari... Kesabaran adalah Bumi... Keberanian menjadi cakrawala... Perjuangan adalah pelaksanaan kata kata...
NO GOD BUT ALLAH . . .
اللهُ لآَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ...
Selasa, 14 September 2010
Sabtu, 28 Agustus 2010
Tetaplah Berdiri
Sang pemimpi, trus berlari
mencari arti yang dinanti
rana indah jauh disana
seakan itu takkan terdulang
Biar cahaya terang
menyinari ruang mimpi
mimpi ...
Tersenyumlah dalam langkah
bulatkan hati demi mimpi
jangan pernah rasa lelah
dikejar mimpi yang kita nanti
tetaplah berdiri
Tahan lelah
berdiam gerah
menghadapi makna kehidupan
rana indah jauh disana
seakan itu takkan terdulang
mencari arti yang dinanti
rana indah jauh disana
seakan itu takkan terdulang
Biar cahaya terang
menyinari ruang mimpi
mimpi ...
Tersenyumlah dalam langkah
bulatkan hati demi mimpi
jangan pernah rasa lelah
dikejar mimpi yang kita nanti
tetaplah berdiri
Tahan lelah
berdiam gerah
menghadapi makna kehidupan
rana indah jauh disana
seakan itu takkan terdulang
Laut Yang Sepi
Usah kau takut
Usah kau ingat kejamnya
Jangan menjauh
Mendekatlah seperti dulu
Air laut tempat kehidupan
Usah resahkan bencana lalu
Mendekatlah seperti dulu
Memeluknya bersetubuh air nan sejuk
Laut kesunyian tanpamu
Rindukan engkau
Senantiasa berlari berjemur dipantainya
Sungguh menangis, kesepian
Usah kau ingat kejamnya
Jangan menjauh
Mendekatlah seperti dulu
Air laut tempat kehidupan
Usah resahkan bencana lalu
Mendekatlah seperti dulu
Memeluknya bersetubuh air nan sejuk
Laut kesunyian tanpamu
Rindukan engkau
Senantiasa berlari berjemur dipantainya
Sungguh menangis, kesepian
Teruslah Bermimpi
Apa yang kau takutkan
Dengan semua ini
Bukankah kesedihan
Sering kita alami
Keadaan ini
Buat kita terbiasa
Dengarkan ku bicara
Teruslah bermimpi
Walau kenyataannya jauh berbeda
Teruslah bermimpi
Jangan berhenti
Percayalah
Lelah ini hanya sebentar saja
Jangan menyerah
Walaupun tak mudah meraihnya
Menghentikan pikiran dengan mata terpejam
Menunggu malam bisa hapus kenyataan
Biar saja mimpi jauh membawa kita
Tetap tersenyumlah
Biar semakin mudah
Karena kesedihan pun
Ternyata hanya sementara
Dengan semua ini
Bukankah kesedihan
Sering kita alami
Keadaan ini
Buat kita terbiasa
Dengarkan ku bicara
Teruslah bermimpi
Walau kenyataannya jauh berbeda
Teruslah bermimpi
Jangan berhenti
Percayalah
Lelah ini hanya sebentar saja
Jangan menyerah
Walaupun tak mudah meraihnya
Menghentikan pikiran dengan mata terpejam
Menunggu malam bisa hapus kenyataan
Biar saja mimpi jauh membawa kita
Tetap tersenyumlah
Biar semakin mudah
Karena kesedihan pun
Ternyata hanya sementara
Rindu Diatas Ombak
Debur ombak membelai Belah hatiku...
Tertanam nama sebatang kasih...
Untukmu hanya kau seorang...
Debur ombak membuai...
Seakan rindu tertuang...
Karna kamu aku hanyut dalam cinta...
Hari-hariku labuhi dengan kisah khayalan...
Anginpun berbisik memintamu tuk pahami aku...
Semakin bergetar dalam skala hati..
Aku titipkan kesyahduan diatas bulan sabit...
Malam menjadi sangat panjang seperti ombak yang tak henti berdebur...
Andai kau angin laut...
Aku adalah nelayan ditengah samudra malam...
Karnamu setiap pori tubuh ini mendingin...
Kasih mulai berbuih menunggu tuk kau pahami...
Tertanam nama sebatang kasih...
Untukmu hanya kau seorang...
Debur ombak membuai...
Seakan rindu tertuang...
Karna kamu aku hanyut dalam cinta...
Hari-hariku labuhi dengan kisah khayalan...
Anginpun berbisik memintamu tuk pahami aku...
Semakin bergetar dalam skala hati..
Aku titipkan kesyahduan diatas bulan sabit...
Malam menjadi sangat panjang seperti ombak yang tak henti berdebur...
Andai kau angin laut...
Aku adalah nelayan ditengah samudra malam...
Karnamu setiap pori tubuh ini mendingin...
Kasih mulai berbuih menunggu tuk kau pahami...
Rabu, 18 Agustus 2010
KAU WANITA, KAU BURUH MIGRAN
KAU WANITA, KAU BURUH MIGRAN
Kuharap lagu air matamu terdengar disini, dan membius mereka yang terkuat
Kau wanita, kau buruh migran yang terkurung dalam sesaknya ruang kelam
Mencari sejahtera tetapi mendapat sayatan hati yang merobek jiwamu
Memohon naungan hanya diskriminasi yang kau dapat, kemudian tersingkirkan
Kau hanya dianggap sekedar komoditi yang senantiasa menjadi perbudakan
Betapa…! kau wanita terkoyak oleh kemiskinan dan ketidakadilan
Kuharap… kuharap… mereka yang terkuat dinegeri ini ada disana
Saat tubuhmu dihempaskan kelantai hitam, dibenamkan kelembah lumpur ternodakan
Meronta percuma, tali-tali nista menjerat tanganmu, mulutmu terbungkam kain hitam
Kepalamu dibenturkan, terluka hebat lalu kaupun tak tahu lagi tentang nasib tubuhmu
Air mata darahmu menetes, melagu surga menjadi neraka, jiwamu terbang bersama perih
Dan kaupun pulang, ada dalam pelukan orang terkasih yang merana merajut luka-luka
Mengenangmu yang tak akan pernah bangun lagi.
Kuharap… kuharap… mereka yang terkuat dinegeri ini ada disana
Saat hari-harimu terlilit cambuk perkasa yang menembus tulang-tulang putihmu
Makian dari mulut-mulut tuan besar menggelegar menyambar panas daun telingamu
Mata-mata besar menatap tajam pengawas atas dirimu yang bekerja tiada henti
Kekejaman telah membuatmu lumpuh dan kaupun dipulangkan kedesamu
Kau hanya berstatus kelas dua, terminal kelas tiga yang pantas bagimu
Kasusmu terkatup rapat dikotak besi, dan terlupakan sampai berkarat
Lalu, mereka yang terkuat apa yang bisa kau lakukan ?
Ada nyawa-nyawa melayang diantara wanita buruh migran
Ada tubuh-tubuh cacat diantara wanita buruh migran
Kuharap… kuharap mereka yang terkuat ada disana
Merubah perihnya biru langit, menjadi nirwana
Merubah lilitan miskin menjadi samudera sejahtera
Merubah yang tertindas menjadi yang terangkatkan
Kau wanita, kau buruh migran
Harapan bunga hidupmu berebah dipadang-padang harapan waktu
Namun duri-duri selalu saja menghiasi bungamu yang justru melukaimu
Mencoba memanjat tangga pelangi menuju langit, tuk meraih bintang seutuhnya
Namun separuh bintang saja itu sudah keberuntunganmu
Karena tanganmu selalu berdarah dalam genggaman tangan-tangan yang terkuat
Kuingin… kuingin kerajaan berbasis diskriminasi gender dihancurkan
Demi kau wanita, kau buruh migran
Dan dedikasikan buat kau wanita-wanita
~Nenen Gunadi~
19-Des-2007
Kuharap lagu air matamu terdengar disini, dan membius mereka yang terkuat
Kau wanita, kau buruh migran yang terkurung dalam sesaknya ruang kelam
Mencari sejahtera tetapi mendapat sayatan hati yang merobek jiwamu
Memohon naungan hanya diskriminasi yang kau dapat, kemudian tersingkirkan
Kau hanya dianggap sekedar komoditi yang senantiasa menjadi perbudakan
Betapa…! kau wanita terkoyak oleh kemiskinan dan ketidakadilan
Kuharap… kuharap… mereka yang terkuat dinegeri ini ada disana
Saat tubuhmu dihempaskan kelantai hitam, dibenamkan kelembah lumpur ternodakan
Meronta percuma, tali-tali nista menjerat tanganmu, mulutmu terbungkam kain hitam
Kepalamu dibenturkan, terluka hebat lalu kaupun tak tahu lagi tentang nasib tubuhmu
Air mata darahmu menetes, melagu surga menjadi neraka, jiwamu terbang bersama perih
Dan kaupun pulang, ada dalam pelukan orang terkasih yang merana merajut luka-luka
Mengenangmu yang tak akan pernah bangun lagi.
Kuharap… kuharap… mereka yang terkuat dinegeri ini ada disana
Saat hari-harimu terlilit cambuk perkasa yang menembus tulang-tulang putihmu
Makian dari mulut-mulut tuan besar menggelegar menyambar panas daun telingamu
Mata-mata besar menatap tajam pengawas atas dirimu yang bekerja tiada henti
Kekejaman telah membuatmu lumpuh dan kaupun dipulangkan kedesamu
Kau hanya berstatus kelas dua, terminal kelas tiga yang pantas bagimu
Kasusmu terkatup rapat dikotak besi, dan terlupakan sampai berkarat
Lalu, mereka yang terkuat apa yang bisa kau lakukan ?
Ada nyawa-nyawa melayang diantara wanita buruh migran
Ada tubuh-tubuh cacat diantara wanita buruh migran
Kuharap… kuharap mereka yang terkuat ada disana
Merubah perihnya biru langit, menjadi nirwana
Merubah lilitan miskin menjadi samudera sejahtera
Merubah yang tertindas menjadi yang terangkatkan
Kau wanita, kau buruh migran
Harapan bunga hidupmu berebah dipadang-padang harapan waktu
Namun duri-duri selalu saja menghiasi bungamu yang justru melukaimu
Mencoba memanjat tangga pelangi menuju langit, tuk meraih bintang seutuhnya
Namun separuh bintang saja itu sudah keberuntunganmu
Karena tanganmu selalu berdarah dalam genggaman tangan-tangan yang terkuat
Kuingin… kuingin kerajaan berbasis diskriminasi gender dihancurkan
Demi kau wanita, kau buruh migran
Dan dedikasikan buat kau wanita-wanita
~Nenen Gunadi~
19-Des-2007
ketika Hawa singgah didamainya khayalanku
ketika Hawa singgah didamainya khayalanku
Bulan membiru lambangkan rinduku yang menghimpit
Terbuai mimpi-mimpi mengulum tiap malamku
Melenggang anganku tak pernah terhenti menari
Hasrat menembus dinding mimpi kealam nyata
Tercipta kata-kata menjanjikan masa depan
Seia mengiringi langkah asmara menuju cita
Tertunda asaku bertabur keraguan dan kepastian
Disaat aku tertembus oleh ganasnya racun cinta
Bahagia singgah disetiap bilik hatiku yang kujaga
Ketika Hawa memadam diam dalam ruang cintanya
Kupanggil namanya namun tersia-sia, dia kini menjauh
Tatkala kata-kata tajam melukai hatinya yang tulus
Pintu pengampunan bagiku telah terkunci rantai luka
Disini aku menyesal ingin menghapus lontaran kasar itu
Ketika Hawa membunuh cintanya dalam terluka hati
Disini aku gundah gulana berharap untuk termaafkan
Segala karma yang akan datang menemuiku
Dimanapun aku pijakkan tapak kaki ini
Cinta alamiku untuknya tak akan terbunuhkan
Bulan membiru lambangkan rinduku yang menghimpit
Terbuai mimpi-mimpi mengulum tiap malamku
Melenggang anganku tak pernah terhenti menari
Hasrat menembus dinding mimpi kealam nyata
Tercipta kata-kata menjanjikan masa depan
Seia mengiringi langkah asmara menuju cita
Tertunda asaku bertabur keraguan dan kepastian
Disaat aku tertembus oleh ganasnya racun cinta
Bahagia singgah disetiap bilik hatiku yang kujaga
Ketika Hawa memadam diam dalam ruang cintanya
Kupanggil namanya namun tersia-sia, dia kini menjauh
Tatkala kata-kata tajam melukai hatinya yang tulus
Pintu pengampunan bagiku telah terkunci rantai luka
Disini aku menyesal ingin menghapus lontaran kasar itu
Ketika Hawa membunuh cintanya dalam terluka hati
Disini aku gundah gulana berharap untuk termaafkan
Segala karma yang akan datang menemuiku
Dimanapun aku pijakkan tapak kaki ini
Cinta alamiku untuknya tak akan terbunuhkan
Langganan:
Postingan (Atom)